Mencermati fenomena ekonomi dimasa pandemi ada sebuah tulisan yang dimuat di republika.com tentang tumbangnya raksana pebisnis di negeri ini. Berikut kutipannya:
Saat sedang berkendara di jalan raya mungkin Anda pernah dibuat kesal dengan polah pengendara motor perempuan. Masyarakat menyebut mereka kaum sein kiri belok kanan. Ada juga yang menyebutnya, emak-emak berdaster.
Sebut mereka apa saja. Faktanya, merekalah yang menggerakan roda perekonomian nasional di masa pandemi.
Di saat ritel-ritel raksasa seperti Seven Eleven, Centro, Debenhams, dan terakhir Giant akhirnya pamit undur dari kancah peritelan di Indonesia, bisnis yang digawangi para emak-emak berdaster ini justru tetap berjaya. Mereka lah yang menguasai Shopee,Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, Zalora dan lain-lain.
Tak hanya di platform marketplace, bisnis emak-emak berdaster ini juga eksis di sosial media (sosmed) macam Facebook dan Instagram. Bisnis mereka skala kecil, amatiran, dan bahkan sebagian besar mereka tidak pernah sekolah bisnis.
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menyumbang ekonomi Indonesia dengan proporsi hingga 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi ini tidak lepas dari peran perempuan wirausaha, yang pada akhir tahun 2018 jumlahnya sudah mencapai 14,3 juta orang.
Selama PPKM masih berlanjut dan pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir, roda perekonomian nasional tentunya masih bergantung pada bisnis yang dilakoni para emak berdaster. Melalui tangan hangat para kaum sein kiri belok kanan diharapakan ekonomi Indonesia yang pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi minus 0,74 persen mampu bangkit lagi.
Dari fenomena diatas bisa kita simpulkan bahwa kunci dari kekuatan emak emak ini adalah kekompakan, kerja yang kontinyu serta pantang menyerah. Dalam dunia dakwah untuk mencapai kesuksesan, kita dituntut untuk berkontribusi sebesar apapun yang kita mampu. Rasulullah pun menjelaskan bahwa amal yang disukai Allah adalah yang kontinyu meskipun sedikit. Demikian juga sudah menjadi sunatullah dalam perjuangan cobaan dan tantangan pasti akan kita hadapi. Ustadz Fathi Yakan menggambarkan bahwa dunia dakwah laksana orang yang di tepian pantai semakin ke tengah semakin besar gelombang dan badai yang akan dihadapi. Demikian juga dengan dunia dakwah, semakin ketengah lautan dakwah akan semakin besar gelombang cobaan dan hambatan yang akan kita hadapi. Yang pasti adalah bahwa setiap kesusahan dan peluh keringat bahkan darah yang menetes akan mendapat balasan dari Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar