Detik Detik Penggantian Khalid Bin Walid Sebagai Panglima; Belajar Keikhlasan Dan Rendah Hati

 


Siapa yang nggak kenal dengan sosok Khalid Bin Walid, sosok Mujahid dan panglima perang yang hebat. Tapi dibalik sosok yang hebat ini ada karakter luar biasa yang bisa kita ambil pelajaran. Hal ini tergambar dalam peristiwa pergantian beliau sebagai panglima perang. Berikut ini kutipan  dari hidayatullah.com yang menggambarkan peristiwa tersebut.

Saat itu, Khalid bin Walid tengah memimpin pasukan untuk suatu peperangan. Tersebar isu, bahwa ia telah berbuat curang terhadap harta rampasan perang (ghonimah). Berita itu sampai ke telingan khalifah Umar bin Khathab di Madinah.

Di sisi lain, melalui kejernihan hati dan ketajaman pikirannya, Umar melihat telah tumbuh benih-benih fitnah pada kaum muslimin, terkait dengan kepemimpinan Khalid dalam kancah peperangan.

Mereka seakan meyakini bahwa kemenangan demi kemenangan dalam peperangan yang diperoleh, berkat kehebatan dan kejeniusan sang panglima perang; Khalid. Bagi Umar hal ini sangat berbahaya, karena mengarah kepada kesyirikan. Menggeser keterlibatan Allah.

Untuk mengentaskan dua persoalan ini, Umar mengutus Bilal bin Rabbah, mantan hamba sahaya, lagi berkulit hitam, namun mendapat kedudukan mulia di sisi Rasulullah saw dan para sahabat. Beliau ditugaskan untuk memberikan surat keputusan khalifah kepada sang jenderal, Khalid bin Walid.

Inti dari surat itu; pertama; mengecek kebenaran berita tentang pengambilan harta ghonimah secara tidak adil. Bila itu benar, perintah Umar kepada Khalid agar segera bertaubat. Kabar itu dibantah oleh Khalid.

“Tidak (benar)!” jawabnya tegas.

Sedangkan yang kedua; sebuah keputusan, bahwa kedudukannya sebagai jenderal dilepas, dan digantikan oleh ‘anak buah’nya; Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Hal ‘unik’ terkait dengan pengutusan Bilal, Umar memerintahkan kepada Khalid untuk meletakkan pipinya di atas tanah, dan Bilal meletakkan telapak kakinya di wajah Khalid, ketika prosesi pembacaan surat Khalifah.

“Lakukanlah wahai Bilal…..,” jawab Khalid tenang, ketika Bilal menyampaikan wasiat amirul mukminin.

Kasak-kusuk pun terjadi antar kaum muslimin dengan peristiwa itu. Sampai ada yang memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Khalid, perihal perasaannya yang dicopot secara mendadak, tanpa ada kesalahan yang diperbuat.

“Ketahuilah. Sesungguhnya aku; Khalid, berjihad karena mencari ridha Allah semata. Bukan karena Umar atau manusia lainnya,” jelas Khalid.

Kisah di atas menggambarkan dua karakter mulia yang melekat pada Khalid bin Walid, sehingga tidak terperdaya oleh kekuasaan/jabatan. Pertama adalah jiwa keikhlasannya. Itu tercermin dari kesediaannya mematuhi perintah ‘atasan’ untuk meletakkan jabatannya, dan diganti oleh prajuritnya. Di sisi lain, ia masih setia berjuang, dengan status prajurit di bawah komando panglima baru.

Sebuah keadaan yang sejatinya sangat berat diterima. Lebih-lebih saat itu ia berada pada karir yang sangat cemerlang. Semua peperangan yang dipimpinnya berakhir dengan kemenangan. Tidak ada satu kesalahanpun yang diperbuat, sehingga mengharuskannya meletakkan jabatan.

Tapi nyatanya, Khalid bin Walid dengan lapang dada melepaskan jabatannya, tanpa harus terlebih dahulu bertanya, apa lagi menyoal kepada sang Khalifah, yang dipandang oleh sebagian orang tengah melakukan keputusan yang tidak adil.

Demikian kutipan tentang peristiwa pergantian Khalid Bin Walid sebagai panglima yang digantikan oleh anak buahnya. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah senantiasa menjaga keihklasan dan mengoptimalkan segala potensi kita untuk perjuangan Islam.

Pecah Belah, Strategi Ampuh Penjajah

Penindasan dan penguasaan suatu bangsa atas banggsa lain adalah suatu peristiwa yang senantiasa menghiasi sejarah. Berbagai usaha dilakukan penjajah dilakukan untuk mencengkeram jajahannya. Hal ini pulalah yang dirasakan oleh bangsa Indonesia.  Salah satu strategi yang digunkan adalah devide et Impera. Salah satu tulisan yang menarik tentang hal ini adalah tulisan Widya Lestari Ningsih yang dimuat di kompas.com, berikut ini kutipannya: 

Selain monopoli, salah satu siasat yang digunakan oleh VOC untuk menguasai nusantara adalah devide et impera. Politik adu domba bahkan dijadikan kebiasaan oleh VOC dalam hal politik, militer, dan ekonomi untuk melestarikan penjajahannya di Indonesia. Orientasinya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan menaklukkan raja-raja di nusantara. VOC pun mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan besar di nusantara dengan memanfaatkan perang saudara ataupun permusuhan antar kerajaan. Berikut beberapa contoh keberhasilan VOC dalam melaksanakan devide et impera di nusantara:

1. Perang Makassar Dalam perang ini, VOC berhasil menaklukkan Kesultanan Gowa dan Kota Makassar pada 1669 karena dibantu oleh Raja Bone dan Arung Palakka yang tengah berseteru dengan Sultan Hasanudin.

2. Konflik Kerajaan Mataram. Konflik ini membuat posisi VOC sangat diuntungkan, sedangkan posisi Kerajaan Mataram semakin melemah karena terbagi menjadi empat kerajaan. Selain itu, Belanda juga berupaya melakukan siasat devide et impera pada Perang Saparua, Perang Padri, Perang Diponegoro atau Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Banjar, dan Perang Jagaraga.

Penggunaan politik adu domba sukses membuat bangsa Indonesia berkonflik dan berebutt kekuasaan. Efektivitas devide et impera pun mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Kerajaan Belanda.

Strategi Belanda di Nusantara Berikut strategi yang dilakukan Belanda saat menerapkan politik devide et impera:

 1. Make friends and create common enemy Pada langkah ini, Belanda akan berusaha menjadi teman dan menciptakan musuh bersama. Apabila sudah berteman, maka negosiasi dan diplomasi akan berjalan lebih mudah. Sementara common enemy yang dimaksud adalah pihak lain yang menjadi saingan bisnis VOC.

2. Manajemen isu Pola ini dilakukan dengan menebar selentingan kabar dan desas-desus, baik di lingkungan politik maupun sosial. Bentuk lain dari manajemen isu adalah propaganda.

3. Bermain di dua sisi Belanda biasanya akan berpihak pada dua kubu yang saling bertentangan seolah berada posisi netral.

 4. Merekrut pemimpin lokal Belanda biasanya akan merekrut pemimpin lokal sebagai bagian dari rantai manajemen terbawah. Trik ini dilakukan dengan memberi pengakuan yang mengatasnamakan kerajaan Belanda terhadap entitas politik di suatu daerah. Seperti yang terjadi pada Perang Diponegoro dan Kesultanan Melayu.

5. Mengatur terjadinya perang saudara Cara ini dilakukan dengan menggunakan pribumi sebagai kekuatan militan untuk melawan bangsanya sendiri. Pola ini terlihat di Sumatera Barat pada 1821-1837, saat Belanda berhasil memprovokasi Kaum Adat untuk berperang melawan Kaum Paderi.

Devide et impera pasca proklamasi kemerdekaan RI

Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali mencoba menerapkan politik devide et impera untuk memecah belah persatuan Indonesia. Upayanya pun berhasil memecah Indonesia menjadi negara-negara bagian, yaitu Negara Indonesia Timur (sekarang Papua), Negara Sumatera Timur, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatra Selatan, dan Negara Jawa Timur.

Satu pertanyaan yang sangat penting bagi kita adalah, Apakah di zaman sekarang ini kita masih menghadapi penjajah ? Apakah strategi devide et Impera masih digunakan? 

APAKAH HAL-HAL KECIL ADA MAKNANYA?

Satu kaidah menyatakan, jika tidak mampu mendapatkan semuanya, jangan meninggalkan semuanya. Kaidah itu berbunyi:

ما لا يدرك كله لا يترك كله

Misalnya, kita ingin membantu semua orang yang sedang kesulitan di masa pandemi. Tetapi karena sangat banyak orang yang kesulitan, kita tidak bisa membantu mereka semuanya. Akhirnya tidak jadi membantu.

Penerapan kaidah di atas, tetaplah membantu sesuai kemampuan kita. Jika ada seribu orang di sekitar kita yang memerlukan bantuan karena kesulitan hidup di masa pandemi, sementara kita hanya mampu membantu sepuluh orang saja, tetaplah lakukan. 

Jangan mengurungkan niat untuk membantu, karena tidak bisa membantu semua orang. Bahkan seandainya hanya mampu membantu satu orang saja dari seribu orang itu, tetaplah lakukan. 

Perbuatan baik, kita lakukan sesuai kemampuan. Ketika tidak bisa membantu secara materi, kita bisa membantu dalam berbagai wujud dan bentuk yang lain lagi. Kita tidak boleh mermehkan kebaikan, meskipun tampak sepele dan kecil.

Rasulullah saw telah bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikitpun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang cerah kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Dalam hadits di atas, Nabi saw memerintahkan Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Kebaikan sekecil apapun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

Jika kita tidak mampu membantu semua orang, tetaplah membantu sesuai kesanggupan. Jika tidak mampu membantu dalam jumlah yang banyak, tetaplah membantu walau hanya dengan jumlah yang sedikit sesuai kemampuan.

Jika Anda memiliki satu gudang kurma, Anda bisa berbagi dengan satu karung kurma kepada mereka yang memerlukan. Jika Anda memiliki satu karung kurma, Anda bisa berbagi satu kantung plastik kurma kepada mereka yang memerlukan.

Jika Anda memiliki satu kantung plastik kurma, Anda bisa berbagi satu biji kurma kepada mereka yang memerlukan. Dan jika Anda hanya memiliki satu biji kurma, Anda bisa berbagi separuh biji kurma kepada mereka yang memerlukan.

Jika bantuan kita hanya kecil dan remeh, apakah ada gunanya? Sangat besar maknanya. Perbuatan baik, meski kecil, bisa menjadi faktor penyelamatan kita dari neraka.

Nabi saw telah bersabda:

 اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

"Jagalah kalian dari neraka sekalipun dengan (membagi) setengah biji kurma" (HR. Bukhari).

Nabi saw juga berpesan,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita, janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Membantu orang lain, sangat besar manfaat dan maknanya bagi kita sendiri. Dengan membantu orang lain, Allah akan membantu kita.

Nabi saw bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

“Barangsiapa menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolong dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jangan pernah meremehkan perbuatan baik yang bisa kita lakukan, meski tampak remeh dan sederhana.

Karena kita tidak pernah tahu dari perbuatan baik mana yang akan menyelamatkan kita dari neraka. Kita tidak pernah tahu dari perbuatan baik mana yang akan memasukkan kita ke dalam surga.


Yogyakarta, 22 Agustus 2021

Oleh Ustad  Cahyadi Takariawan
Referensi – rumaysho.com

Perang Candu, Strategi Penjajahan dari Cina Hingga Jawa


Anu  cacat agung malih, anglangkungi saking awon, apan sekawan iku akeh apun. Dhingin wong madati, pindho wong nabotohan, kaping tiga wong durjana, kaping sakawane ugi. (Kitab Wulang Reh, pupuh VIII Wirangrong ayat 10, karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV).

Terjemahan : Ada lagi cacat yang lebih besar dari kesalahan, yaitu empat perilaku. Pertama, madat. Kedua, bertaruh. Ketiga, pencuri. Keempat, pedagang.

Candu punya sejarah panjang, bahkan lebih tua dari sejarah berdirinya republik ini. Pun negara-negara lain di Asia, Eropa, Amerika. Candu sudah mendunia sebelum kata “globalisasi” tercipta.

Saat Tentara Raja Mabuk Candu

Cina misalnya, punya sejarah pahit kehilangan Hongkong, gara-gara candu. Awalnya, Kaisar Cina, gerah melihat rakyatnya menjadi pemadat. Saat itu, juragan candu alias pemegang hak monopoli candu dari India hingga Timur Jauh adalah David Sassoon.

Menurut Jewish Encyclopedy 1905, ia adalah keturunan Yahudi kelahiran Baghdad tahun 1792, yang hijrah ke Bombay. Selain opium (candu olahan), David juga pemilik hak monopoli perdagangan kain dan sutra Cina. Setelah sukses “mengopiumkan” Kanton- Cina, yang pada 1830-1831 menghasilkan jutaan poundsterling, sebagian keuntungan mengalir ke kas Inggris.

Sassoon makin kaya, tapi rakyat China sibuk mengawang-awang, menghirup asap benda terlarang. Maka Kaisar China bertitah: mengharamkan candu pada 1839, lalu mengangkat Komisioner Canton, Lin Tse-Hsu untuk memimpin penghentian niaga opium di Cina. Lin bertindak, opium milik Sassoon ditenggelamkan ke sungai.

David Sassoon murka, lalu membalas Lin dengan mengadu ke pemerintah Inggris. Ujungnya, Perang Candu pun meletus 1840-1842.

Saat Inggris mengerahkan pasukannya untuk menyerang kota-kota dan memblokade pelabuhan-pelabuhan di Cina. Tentara Cina yang sebagian besar telah jadi pemadat, tak mampu perang hadapi tentara Inggris. Kekalahan dalam Perang Candu mengoyak Cina.

Perang secara resmi berakhir setelah ditandatanganinya Perjanjian Nanjing pada 29 Agustus 1842 di atas kapal perang Inggris HMS Cornwallis. Isi perjanjian antara lain :

– Niaga opium di Cina dilegalkan,

– Cina harus bayar ganti rugi opium yang ditenggelamkan senilai 2 juta pound,

– Pengakuan Inggris berdaulat atas 200 pulau di lepas pantai Cina.

– Pihak asing (Inggris, Perancis, Amerika) diijinkan  berlayar di perairan domestik Cina,

– Asing berhak membangun pabrik di pelabuhan, hak membangun jalan kereta api, hingga hak mencetak dan mengedarkan mata uang. (Chiang, Jieshi. 1943. Zhongguo Zhi Mingyun, China’s Destiny).

Belanda Kulakan Candu, Dilawan dengan Buku

Di Nusantara, menurut Laurentius Dyson P dalam bertajuk “Narkoba, Seksualitas dan Politik” (dalam acara Koentjaraningrat A Memorial Lectures XII/ 2015 di Depok, 15/10/2015), narkoba masuk ke Bumi Pertiwi saat sebelum pecah Perang Candu di Cina.

Menurut Dyson, “Dalam berbagai catatan sejarah, perdagangan candu atau opium telah dimonopoli oleh VOC sejak tahun 1677. Ketika diadakan perjanjian khusus dengan raja Mataram yang bertakhta pada waktu itu yakni Sultan Amangkurat II.

Candu diserahkan kepada raja-raja oleh pihak VOC sebagai hadiah, sehingga tidak heran ketika masuknya candu, para pemimpinlah orang-orang pertama yang menikmati candu, pada akhir tahun 1600.”

Namun kulakan candu di Nusantara, bukan tanpa tentangan dari pihak penguasa. Menurut Dyson, maraknya konsumsi candu di masa lalu, tercermin ketika Sunan Pakubuwono II pada 1742 melarang penggunaan candu. Dan pada 1803 gerakan Padri mengecam penggunaan candu.

Juga pada 1810, saat Paku Buwono IV menulis buku Wulang Reh, ia menyinggung buruknya pengaruh candu. Ada juga Een Ketjosegeschiedenis (1887) menulis novel kecaman terhadap opium di Hindia Belanda.

RA. Kartini (pada 1889) dalam suratnya pun menulis tentang bumi putra Jawa penghisap candu. Dan pada 1908 Boedi Oetomo mengingatkan agar bumi putra tidak menghisap candu.

Niaga candu dari jaman ke jaman, terus berlangsung. Catatan jambi.bnn.go.id (16/5/2013), pada era akhir abad ke-18, peredaran opium sudah menjamur di seluruh pesisir utara Jawa, mulai dari Batavia sampai ke Tuban, Gresik, dan Surabaya di Jawa Timur. Bahkan menerobos masuk ke Pulau Madura.

Di pedalaman Jawa, opium menyusup sampai ke desa seantero wilayah Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada 372 rumah candu di Jawa. (Sumber: kompas.com, 30/3/2008).

Di kalangan bangsawan  tertentu saat itu, penggunaan opium menjadi gaya hidup.

Indonesia setelah merdeka, memberangus peredaran narkoba melalui Undang – undang nomor 9 tahun 1976 tentang Narkotika. Disusul Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Terbaru, Undang-undang nomor 35 tahun2009 tentang narkotika. Bukannya berkurang, malah gurita narkotika transnasional, menjalar brutal.

Jejak opium, melibas zaman. Padahal, menurut Single Convention on Narcotic Drugs pada tahun 1961, obat-obat (narkotika) itu adalah suatu zat yang dapat merusak fisik dan mental yang bersangkutan, jika penggunaannya tanpa resep dokter.

Bisa dibayangkan kerusakan yang ditimbulkannya terhadap kekuatan pertahanan negara kita, bila manusia Indonesia dan aparatnya, menjadi pemadat.

Jakarta 19 Maret 2019

Maria Dominique

Penulis buku militer

Sumber:tniad.mil.id 

Penjajahan Ekonomi, Awal Mula Penjajahan Belanda

Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, secara resmi bernama Persatuan Perusahaan Hindia Timur (bahasa Belanda: Vereenigde Oostindische Compagnie; VOC, bahasa Inggris: Dutch East India Company) didirikan pada 20 Maret 1602. VOC adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada pula Geoctroyeerde Westindische Compagnie yang merupakan persekutuan dagang untuk kawasan Hindia Barat. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia sekaligus merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham.

Di kalangan orang Indonesia bahkan juga di Malaysia, VOC memiliki sebutan populer kompeni atau kumpeni. Istilah ini berasal dari kesalahan orang Indonesia ketika mengucapkan compagnie dalam bahasa Belanda yang merujuk pada makna perusahaan. Tetapi rakyat Nusantara lebih mengenal kompeni sebagai tentara Belanda karena penindasannya dan pemerasan kepada rakyat Nusantara yang sama seperti tentara Belanda.

Sumber: wikipedia

Keterlibatan Orang Pribumi dalam Pasukan Penjajah Belanda

Salah satu aspek dari taktik rekrutmen KNIL di koloni-koloni Belanda adalah klasifikasi orang-orang tertentu yang, entah bagaimana, lebih cocok untuk menjadi tentara. Di Hindia Belanda, orang Ambon dan orang Manado, dengan tambahan dari beberapa orang Alifuru dan orang Timor, dianggap cocok untuk menjadi tentara. Bersama-sama, mereka sering disebut dengan Amboinezen. Pemilihan orang Ambon dan Manado ini dilatarbelakangi dari pengetahuan VOC terhadap mereka, sehingga VOC menjadikan mereka sebagai tentara privatnya. 

Tahun 1936, jumlah pribumi Hindia Belanda yang bergabung di KNIL mencapai 33.000 tentara, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Meskipun KNIL banyak menyerap pribumi Hindia Belanda, Belanda juga merekrut mantan budak Ghana dari Pantai Emas Belanda untuk melengkapi kembali jumlah tentara yang hilang saat Perang Diponegoro. Mereka kemudian dikenal sebagai Belanda Hitam. Terhitung sekitar 3000 orang Ghana yang melayani KNIL antara tahun 1830-1881.

Pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL adalah Abdulkadir Widjojoatmodjo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal USS Renville. Sultan Hamid II dari Pontianak, yang dididik oleh dua perwira Inggris, mencapai pangkat Mayor Jenderal dalam posisi Asisten Politik Ratu Juliana.

Sumber: wikipedia

Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa

Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa, beliau berkata :  الفصل الثاني في أسرار الصوم وشروطه الباطنة  اعلم ...