Konflik Mesir dan Perang Suriah Sudah Diprediksi Dalam Alquran


JAKARTA -- Konflik yang terjadi di Mesir rupanya telah tertulis dalam Alquran. Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan, ayat Alquran yang memprediksi konflik Mesir terdapat dalam Surat At-Tin ayat 1-3.

"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Makkah) ini yang aman," tutur Bachtiar membacakan terjemahan Surat At-Tin ayat 1-3, saat menjadi narasumber dalam Forum Solidaritas Muslimah Indonesia untuk Derita Mesir di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Sabtu (21/9).

Bachtiar berkata, tafsir dari surat tersebut adalah, "Demi bumi tin di Damaskus (Suriah), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yg ada di Sinai (Mesir). Dan demi kota Makkah yang aman."

Jika dilihat dari kacamata sederhana surat At-Tin, lanjutnya, maka konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Mesir, adalah perang global yang sudah Allah takdirkan. Perang itu, kata Bachtiar, bahkan melibatkan seluruh dunia.

Karenanya, Bachtiar menilai, persoalan Mesir jangan dianggap sebagai konflik politik. Sebab, jika melihat persoalan tersebut dari sisi politik saja maka hati akan terasa kosong. Lebih dari itu, ia melihat Allah telah menyiapkan skenario besar dalam peristiwa ini.

Bachtiar meyakini, akhir dari konflik Mesir juga sudah termaktub dalam Surat Al-Qashshash ayat 5 yang menceritakan kisah Musa melawan Firaun. 

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)," bunyi terjemahan dari Surat Al-Qashshash ayat 5.

"Pada akhirnya di ayat itu digambarkan orang-orang yang dilemahkan nanti akan dikuatkan dan diwariskan kekuasaan di Mesir," tutup Bachtiar

SUMBER: http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/09/21/mth087-konflik-mesir-dan-perang-suriah-sudah-diprediksi-dalam-alquran

‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’, Kritikan Mantan Seorang Jurnalis TV


BERADA dalam posisi nyaman, punya jabatan tinggi, bergaji hampir puluhan juta, biasanya membuat seseorang tidak lagi memikirkan idealisme. Kebanyakan orang justru akan mempertahankan posisinya seperti itu, apalagi di tengah arus materialisme yang terus melanda umat manusia.
Namun berbeda dengan sosok pria satu ini, yang rela melepaskan itu semua demi sebuah idealisme yang berasal dari pemahamanannya tentang Islam. Sosok tersebut adalah Mohamad Fadhilah Zein, sosok manusia yang telah malang melintang dalam dunia jurnalisme dan terakhir posisinya pernah sebagai news producer untuk salah satu televisi nasional ternama yang ada di Indonesia.
Bagi Fadhil – panggilan akrab beliau – pemberitaan media massa tentang umat Islam sangat tendensius dan tidak berimbang. Media massa di Indonesia, sengaja atau tidak, telah bertindak zalim terhadap umat terbesar di Republik ini. Dan inilah salah satu alasan utama dirinya lebih memilih untuk mundur dari posisi nyamannya sebagai salah satu ‘petinggi’ di media. Mungkin sebagian orang akan menganggap dirinya bodoh keluar dari pekerjaannya, namun bagi Fadhil keberpihakan terhadap umat dan idealisme lebih utama daripada jabatan dan harta yang berlimpah.
Pasca mundur sebagai new producer salah satu televisi swasta, Fadhil yang telah lama merasa terjadi pertentangan batin di dalam dirinya sewaktu melihat kezaliman media terhadap pemberitaan umat Islam termasuk televisi tempat dia dulu bekerja, mulai mengumpulkan fakta-fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam. Dan akhirnya untuk melampiaskan gejolak di dalam hatinya serta sebagai upaya mengedukasi masyarakat tentang tidak adilnya media terhadap umat Islam, Fadhil memilih membuat sebuah buku berjudul “Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam.”
Dalam bukunya setebal hampir 200 halaman tersebut, Fadhil memaparkan secara gamblang banyak kasus tentang bagaimana media massa mainstream (baca: sekuler) ketika memberitakan segala sesuatu yang terkait umat Islam. Hampir semua pemberitaan media massa arus utama tersebut selalu menyudutkan umat Islam. Sebagai contoh pemberitaan kasus terorisme, FPI, penyegelan gereja Yasmin dan lain sebagainya.
Tentu saja harus ada upaya dari umat Islam untuk mengcounter semua pemberitaan yang cenderung banyak salahnya itu. Menurut Fadhil harus ada revolusi media. Dan revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama yang lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Dan revolusi media itu, menurutnya ada di tangan jurnalis muslim dan media massa Islam. Karena menurutnya media dan jurnalis Muslim lah yang seharusnya menjadi pembela Islam dan umat Islam yang bekerja penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan.(fq/islampos) By Al Furqon on June 3, 2013

SUMBER: http://nahimunkar.com/kezaliman-media-massa-terhadap-umat-islam-kritikan-mantan-seorang-jurnalis-tv/

Alhamdulillah, Dua Manajer Asal Korea Peluk Islam



Tragedi bom Boston tidak mengurangi kemantapan hati mualaf Kanada untuk tetap menjaga keyakinan Islam. Namun, mereka mengharapkan adanya bantuan dari umat Islam ketika menjalani proses perpindahan agama.

Remy Bolboul, seorang mualaf mengatakan, kisah Siti Khadijah dan tragedi 9/11 menjadi momentum keputusannya untuk memeluk Islam.
"Jujur saat itu saya terinspirasi dengan kisah istri Nabi Muhammad Shallallahu Slaihi Wasallam, Siti Khadijah. Ia pribadi yang kuat, mandiri dan fantastis," katanya seperti dikutip Toronto Sun, Rabu (8/5).

Namun, kata Remy, tidak mudah bagi mualaf untuk menjalani kehidupan dengan identitas barunya. Tapi niatan tulus Remy membuatnya kuat menjalani perubahan itu.
"Memang tidak mudah. Sebabnya, butuh dukungan di sekitar Anda. Namun, perlu Anda pahami para mualaf percaya Islam adalah cara hidup yang lengkap," tuturnya.

Secara terpisah, Imam Masjid Windsor, Mohammed mengatakan, peran masyarakat untuk membimbing masyarakat mengambil keputusan untuk memeluk Islam sangat minim. Padahal mereka perlu bantuan itu lantaran konsekuensi dari konversi adalah penolakan dari lingkungan dan Keluarga.

Media “Partai”, Kasus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Momentum Politik



Mengawali tulisan ini, maka rasanya penting untuk saya menjelaskan bahwa tulisan ini hadir bukan karena saya seorang simpatisan PKS apalagi Kader. Saya tak memilih siapapun ketika PEMILU yang lalu – lalu itu berlangsung, sebab sampai saat ini, AKU adalah GOLPUT SEJATI. Keyakinan kolotku mengatakan, tanpa aku memilih pun, negeri ini tetap akan berjalan sebagaimana yang sudah – sudah, seelok dan sesurga apapun para kandidat – kandidat itu menghadirkan rupa kata mereka agar di pilih. Dan fakta telah membuktikan itu, bagaimana perilaku pengelola negeri ini, tak juga beranjak dari buruk rupa Orde Baru, bahkan banyak orang memprediksi lebih buruk, walau reformasi telah bergulir 1, 5 dekade.
Penjelasan di atas, menjadi penting, sebab apa yang saya sampaikan bersangkut paut dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang akhir – akhir ini, menjadi bulan – bulanan “sadisme” Media Massa. Oleh karena itu, mungkin saja ada subjektifitas tetapi substansi subjektifitas ini tetap dalam kerangka objektif sebagai bagian dari masyarakat yang berhak mengemukakan argumentasi dan pandangan. Sebab beberapa hari ini, sangat terasa, bagaimana Media Masa khususnya TV, acapkali tak menunjukan keadilan opini di dalam pemberitaan yang bersangkut paut dengan Partai ini. Betapa tidak, semua media – media besar khususnya TV yang mengusai hampir sebagian besar penonton nasional dan memiliki jejaring informasi sampai pelosok negeri, terus – menerus tanpa henti melakukan “serangan” opini yang kadang “kabur”dan terkesan tendensius terhadap individu – individu yang bertautan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Nama AHMAD FATANAH menjadi trending topic dan sumber pemberitaan itu, melebar kemana – kemana, walaupun dia bukanlah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagaimana yang dikatakan Tifatul Sembiring sebagai salah satu petinggi partai ini. Relasinya yang tak cukup wajar dengan beberapa orang perempuan yang mendapatkan limpahan harta menjadi ulasan yang tak kunjung usai. Harta yang dianggap sebagai hasil rampokan kasus Impor daging sapi yang turut serta melibatkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat itu dan beberapa kader lainnya. Bukan hendak membenarkan atau pun melakukan pembelaan atas apa yang telah dilakukan oleh cecunguk – cecunguk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, sebab tindakan Korupsi, apapun alasannya tidak ada kepatutan untuk di benarkan. Hanya saja, sikap media sepertinya telalu berlebihan dalam memberi porsi pada pemberitaan kasus – kasus yang bersangkut paut dengan Partai yang satu ini. Ada sikap vulgaritas yang kelebihan dan bentukan opini yang keseringan dan memuakan.
Fenomena yang demikian ini, memang mengkonfirmasi, bagaimana hubungan media dan politik dewasa ini, yang kian menjadi kombinasi tak terpisahkan. Media bukan hanya menjadi alat komunikasi, tapi juga industri yang menopang kehidupan berpolitik. Dan ketika kemudian kapitalisme yang bersinggungan dengan politik memenangkan persaingan, hegemoni atas media pun menjadi konsekwensi yang tak terelakkan. Sebagai Negara yang berdemokrasi maka kehadiran dan peran media massa menjadi sebuah keniscayaan untuk di elakan. Surbakti, 2000 mengatakan telah terjadi Amerikanisasi politik di Indonesia, beliau menyebutkan tiga cirinya yaitu: 1) penggunaan teknologi komunikasi, khususnya TV; 2) kapitalisasi politik atau penggunaan uang dalam jumlah yang besar untuk kampanye (iklan dan pengumpulan massa); dan 3) reduksi kompetisi politik menjadi kompetisi citra para calon.
Dalam konteks politik di Indonesia, posisi Media Massa mengalami hegemoni kapitalistik yang bersinergi dengan politik. Jelas terlihat bahwa banyak MEDIA BESAR yang dimiliki oleh sebagian pembesar – pembesar PARTAI POLITIK atau beravialiasi menjadi corong PARTAI POLITIK demi kekuasaan dan uang. Hal ini, menjadikan MEDIA – MEDIA tersebut sulit untuk menghindarkan diri dari subjektifitas pemberitaan, terutama menyangkut kiprah baik buruknya Partai Politik. Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Indonesia Eko Maryadi, juga mengakui hal ini, bahwa Jurnalisme disalahgunakan untuk Rivalitas Politik Pemilik Media.
Beredarnya rekaman pembicaraan di media sosial (youtube) tentang rencana penggunaan frekuensi publik (RCTI) untuk kepentingan politik praktis (Partai Hanura)  mengonfirmasi sekali lagi hilangnya etika dan diabaikannya norma hukum yang mengatur dunia penyiaran. Sebelumnya, menurut AJI, praktik yang sama dipertunjukkan oleh Metro TV yang terafiliasi dengan Partai Nasdem dan TV One yang terafiliasi dengan Partai Golkar (Kompas. 06 Mei 2013). Relasi kuasa antara Pemilik modal dan kode etik pemberitaan media menjadi telihat kabur tanpa batasan yang jelas lagi. Media sepertinya tak mampu lagi bertindak di atas etik merekatatkala diperhadapkan dengan kepentingan politik pemilik modal. Media di tuntutbermetamorfosis menjadi dua muka, disatu sisi menjadi “Media Partai” namun disisi lain harus menjaga etika kepatutan. Bukan lagi rahasia, bahwa banyak kasus yang bersangkut paut dengan pembesar PARPOL sekaligus pemilik media termasuk kader – kader mereka tak muncul dalam pemberitaan.
Masifnya pemberitaan Media TV terkait kasus yang menimpa kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) seolah menjadi fakta kedigdayaan “Media Partai”. Bagaimana pemberitaan Media Massa khususnya TV dalam kasus yang melibatkan para cecunguk – cecunguk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menunjukan eskalasi pemberitaan yang sangat berbeda. “Media Partai” layaknya menemukan momentum yang tepat, seiring dengan pertarungan POLITIK tahun 2014 yang semakin dekat. Momentum yang cukup menjadi alasan untuk “mengkebiri” eksistensi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selama ini dianggap representative religitas sebuah partai politik berbasis Islam di Indonesia dan cukup bersih dibanding PARTAI lainnya. Yang tentu menjadi ancaman tersendiri bagi partai – partai rivalitasnya dalam meraup suara pemilih. Apalagi selama ini, hamper sebagian besar Partai Politik lainnya, juga memiliki sejumlah kader yang seringkali bersinggungan dengan masalah hukum terutama Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN) yang cukup mencoreng nama partai mereka dan mempengaruhi sudut pandang public sebagai pemilih.
Kekuatan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memang layak diperhitungkan sebab Partai ini merupakan satu - satunya partai politik yang memiliki basis kader partai jelas dan militant serta proses kaderisasi yang tersistematis dibanding partai lainnya.Perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang fantastis beberapa kali PEMILU belakangan ini, adalah tantangan dan ancaman nyata yang dihadapi rivalitas politik. Pada keikut sertaannya di Pemilihan Umum (Pemilu) 1999, Partai Keadilan (PK) sebelum berevolusi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memperoleh 1,3% suara. Selanjutnya, tahun 2004, PKS memperoleh suara sebanyak 7,34% (8.325.020) dari jumlah total dan mendapatkan 45 kursi di DPR dari total 550 kursi di DPR. Terakhir, pada Pemilu 2009, sebanyak 57 kursi (10%) di DPR diperoleh partai ini setelah mendapat sebanyak 8.206.955 suara (7,9%). Pada tahun 2014 sesuai dengan rapat pimpinan nasional mereka telah mencanangkan target 3 besar di Pemilu legislatif 2014. Sebuah target yang cukup rasional dan realistis dengan kondisi partai yang cukup stabil sebelum munculnya kasus Impor daging sapi.
Pemilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sebagian besar adalah pemilih rasionalmenjadi sangat rentan untuk terpengaruh dengan isu – isu yang negative terutama masalah korupsi. Identitas dan karakteristik yang dimiliki oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai representative religitas sebuah partai politik akan memiliki nilai ‘jungkal” yang lebih besar dibandingkan PARTAI POLITIK lainnya tatkalatersangkut paut kasus hukum. Menggambarkan posisi dan situasi korup beberapa cecunguk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ibarat sebuah kalimat “Jika seorang yang memiliki “labeling” maling melakukan tindakan pemalingan maka tak ada yang mengagetkan sebab dia memang maling tetapi jika seseorang dengan “labeling” Ustad melakukan pemalingan, walaupun secara hukum positif sama – sama bertindak maling, tetapi konsekwensi sosial dan beban moral yang ditanggung tentu memiliki kadar yang berbeda. Karena itu, walaupun sama – sama korupnya dengan partai lainnya bahkan sekalipun lebih korup partai lainnya namun konsekwensi logis psikologis masyarakat yang dihadapi antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai lainnya sangat berbeda.
Oleh karena nya, pemanfataan kasus hukum yang menimpa beberapa cecunguk yang bersangkut paut dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sepertinya menjadi isu sensitif bagi partai ini dan momentum yang tepat bagi “Media Partai” untuk membuyarkan kecenderungan pemilih rasional tersebut. Para pemilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bukan berasal dari kalangan kader akan berpikir ulang untuk tetap memberikan dukungan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hal ini sangat mungkin, mengingat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak memiliki “perangkat media” yang kompoten untuk melakukan counter attack terhadap masifnya berbagai opini yang dibangun oleh beberapa media belakangan ini. Apalagi, selama ini format kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih cenderung tradisional bertumpu pada jaringan sosial, basis sukarelawan, aktifitas partai dan komunikasi langsung. Memang format kampanye ini sangat mengakar dan tak dapat serta merta tergantikan format kampanye moderen yang bertumpu pada media massa, hanya saja ruang jangkauan sangat terbatas sehingga mempengaruhi efektifitas penyampaian.
Langkah “mengkebiri” sepertinya tidak hanya lewat opini pemberitaan semata, tetapi juga tampak pada dukungan MEDIA TV yang begitu luar biasa atas setiap langkah penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap permasalahan yang dihadapi beberapa kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Masifnya dukungan pemberitaan media ini, tentu jarang kita saksikan pada beberapa kasus Partai lainnya. Tindakan – tindakan yang memberi kesan yang amat sangat janggal dibanding langkah – langkah penindakan mereka terhadap beberapa PARTAI POLIK lainnya yang juga memiliki kader terlibat kasus korupsi yang cukup besar dan massif.Pertontonan ketegasan dan kegarangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tampak luar biasa terhadap kasus yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS).Mulai Penetapan status tersangka terhadap mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sampai dengan proses penangkapan tak luput dari liputan MEDIA. Hanya saja, pertontonan ketegasan dan kegarangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sangat terlihat berbeda, tatkala berhadapan dengan kasus Partai Politik lainnya.
Beralihnya pemilih rasional terutama kelas menegah yang cukup besar sepertinya menjadi harapan yang mungkin saja tersirat dari perilaku “Media Partai” ini. Yangselama ini, sebagian besar pemilih rasional tersebut menjadi lumbung suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beralihnya suara pemilih rasional tersebut, akan menjadi berkah tersendiri untuk mengisi lumbung suara Partai – Partai rival untuk sebuah legitimasi politik yang bisa saja berakhir “Parsial” tanpa makna tanpa substansi bagi negeri ini.
Inilah pertunjukan tahun politik, yang banyak diprediksi pengamat, penuh dengan intrik dan langkah – langkah “liar”. Di era kedigdayaan media massa, maka MEDIA menjadi salah satu instrument penting yang sangat berperan untuk mempertontonkan politik dan laku politisi. Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Sehingga Partai Politik yang tak memiliki akses terhadap MEDIA dapat tergilas opini media jika tak mampu menyiapkan langkah – langkah taktik dan strategis sebagai penyeimbang.
Satu hal yang penting dengan kehadiran MEDIA MASSA di era reformasi adalah bahwa komunikasi politik di Indonesia telah banyak didukung oleh media massa, hanya saja perlu diimbangi dengan upaya pembebasan media massa sehingga komunikasi politik yang tersampaikan melalui MEDIA MASSA dapat meningkatkan pendidikan dan kesadaran politik Indonesia secara objektif.
Dalam situasi ini, mengutip Prasojo ; saran terbaik bagi kita, konsumen informasi yang awam adalah : ketika sebuah media terafiliasi politik memberitakan kegiatan kelompok politik atau figure, maka percayalah, itu semua sampah. Begitu pula ketika media itu membombardir lawan politiknya, maka janganlah coba – coba mengunyah, tapi buanglah, kecuali bila yang diungkap adalah fakta tanpa disertai opini.
Namun, bagi para penguasa yang hari ini masih bisa arogan berkat media yang dimilikinya, ketahuilah, kekuasaan Anda agaknya takan lagi lama. Kebangkitan social media secara perlahan akan merevolusi struktur pemegang kekuasaan. Penurunan para gatekeeper informasi tradisional kini telah berada di halaman. Bahkan Rupert Murdoch sang raja media Inggris dan dunia tak mampu membendung kemarahan masa lewat media social on - line, begitupun si Berlusconi raja media asal Italia itu.


Populasi Muslim Amerika Meroket

Muslim telah ada di Amerika Serikat selama berabad-abad. Namun, sebagian besar imigran masuk ke negara itu dalam 40 tahun terakhir dengan 80 persen Muslim tiba setelah 1080-an. Pernyataan itu disampaikan Direktur riset dan manajemen komunitas dari Institut Kebijakan dan Pemahaman Sosial, lembaga think-thank fokus pada kajian Muslim AS berbasis di Michigan, Farid Senzai. Selama beberapa generasi, Muslim di Amerika telah membangun sejumlah infrastruktur yakni masjid, sekolah dan lembaga advokasi. "Kini dengan populasi yang diperkirakan merentang sebanyak 2-8 juta, mereka mulai mendirikan lembaga akademik, seperti yang dilakukan kaum Katholik dan Yahudi beberapa generasi lalu," ujar Farid dikutip The New York Times, Senin (15/4). Farid mengatakan, kehadiran lembaga pendidikan Islam itu dapat mempromosikan pemahaman lintas budaya, ketika pengunjung 'melihat langsung dalam bentuk tindakan'. "Yang pasti, institusi seperti ini, dalam jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menghubungkan pihak yang berjarak sekaligus banyak selip pemahaman di masyarakat tentang Islam dan Muslim," ujarnya mengakhiri. Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/04/15/mlagqh-populasi-muslim-amerika-meroket

Awas!!! Dahsyat RCTI Hina Islam, SebutIslam Pro Setan


JAKARTA (voa-islam.com) – Sangat
disayangkan, p ernyataan Chef Renne Tanjung
yang menyebut kata majemuk ‘Islam Prosetan’
pada tayangan “Dahsyat” RCTI, 24 Desember
2012 lalu, telah menghina Islam. Program acara
Dahsyat yang disiarkan RCTI harus dihentikan
dan dibubarkan.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah
menyampaikan hasil penilaian Majelis Ulama
Indonesia (MUI) ke RCTI terkait penayangan
Program Siaran “Dahsyat” tanggal 24 Desember
2012 dalam adegan yang menyebutkan kata
“Islam Prosetan”. Penilaian Majelis Ulama
Indonesia terlampir berdasarkan permintaan
KPI Pusat pada surat No. 40/K/KPI/01/13
tertanggal 16 Januari 2013 dan surat No. 137/
K/KPI/03/13 tertanggal 4 Maret 2013 seperti
dilansir kpi.go.id.
Hasil penilaian Majelis Ulama Indonesia dalam
surat No. B-78/MUI/III/2013 tertanggal 4
Maret 2013 (surat terlampir) atas pogram
melengkapi isi surat sanksi administratif
penghentian sementara KPI No. 138/K/
KPI/03/13 tertanggal 5 Maret 2013.
KPI meminta, surat sanksi administratif KPI dan
hasil penilaian MUI menjadi bahan evaluasi
internal RCTI untuk memperbaiki program
tersebut di masa mendatang.
Adapun penilaian MUI terhadap pelanggaran di
dalam acara “Dahsyat” yakni dengan
mempertimbangkan beberapa ayat Al Qur’an
dan hadits yang mengadung pengertian betapa
buruknya kata “Syaitan” (Setan). Ayat-ayat Al
Qur’an yang dikutip yakni QS.
Annisa’/4:119-120, QS. Al Baqarah/2:168-169,
QS. Albaqarah/2:208, QS. Annisa’/4:38, QS. Al-
An’am/6:142, dan QS. Al-A’raf/7:22.
Sedangkan hadits nabi yang dikutip yakni Shahih
Muslim, hadits ke-587, juz I halaman 146.
Menurut kesimpulan dengan memperhatikan
hal-hal di atas, MUI berpendapat penggunaan
kata majemuk “Islam prosetan” adalah tidak
benar dan buruk. Islam sama sekali tidak
prosetan, bahkan berseberangan.
Diakhir suratnya, MUI merekomendasikan,
menghendaki lembaga penyiaran yang memberi
kesempatan tampilnya kata majemuk tersebut
diberi sanksi sesuai dengan peraturan
perundangan. Kemudian untuk menghindari
kesalahan sejenis terjadi lagi, MUI meminta
setiap program harus direkam lebih dulu agar
lembaga penyiaran terlebih dahulu melakukan
penyensoran.
Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI
Jakarta, Habib Salim Alatas atau Habib Selon,
(8/3/2013) menilai, "Acara Dahsyat RCTI telah
berkali-kali melecehkan Islam. Pernyataan
‘Islam prosetan’ itu menjadi puncaknya. FPI
menuntut pembubaran acara Dahsyat RCTI,”
tegas Habib Selon.
Habib Selon juga mendesak menejemen RCTI
agar segera menghentikan acara musik Dahsyat,
karena Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah
menyatakan acara Dahsyat, 24 Desember 2012,
menodai Islam.
“Jika RCTI tetap menyiarkan Dahsyat dan
melecehkan teguran KPI serta rekomendasi
MUI, FPI akan turun tangan menghentikan dan
membubarkan Dahsyat,” pungkas Habib Selon.
Di surat sanksi KPI dijelaskan pelanggaran yang
dilakukan program Dahsyat yakni
ditayangkannya adegan Raffi Ahmad bertanya
kepada  bintang tamu, Chef Renne Tanjung,
“Kamu Natal nggak?” dan kemudian Chef Renne
menjawab: “Nggak!” Lalu Raffi bertanya, “Kamu
nggak Natal ya?” Chef Renne menjawab,
“Nggak, saya Islam prosetan.”
Hal itu menjadi kesimpulan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) terkait pernyataan bintang
tamu Chef Renne, saat menjawab pertanyaan
presenter Dahsyat, Raffi Ahmad. Penayangan
adegan yang menyebutkan Islam prosetan itu,
dikategorikan sebagai pelanggaran atas
penghormatan terhadap nilai-nilai Islam serta
perlindungan untuk anak dan remaja.
Hasil penilaian MUI dalam surat No. B-78/MUI/
III/2013 tertanggal 4 Maret 2013, melengkapi
isi surat sanksi administratif penghentian
sementara KPI No. 138/K/KPI/03/13 tertanggal
5 Maret 2013. [Desastian/s alam-online]

Sumber:
Published with Blogger-droid v2.0.10

Gelandang DC United Dipanggil Timnas Panama


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Gelandang kanan DC United (DCU) Marcos Sanchez dipanggil Timnas Panama yang akan berlaga di dua laga kualifikasi Piala Dunia 2014 melawan Jamaika dan Honduras 22 dan 26 Maret mendatang. Dengan demikian, Sanchez akan absen membela DCU itu pada laga kandang melawan Columbus Crew 23 Maret mendatang.

Seperti dilansir situs resmi DCU, Sanchez adalah pemain DCU berstatus pinjaman dari klub Panama, Tauro FC, yang didatangkan pada 26 Februari lalu. Ia memang sering menjadi andalan Timnas Panama di berbagai ajang. Penampilan terakhirnya adalah saat memberikan assist pada laga yang berakhir 2-2 melawan Kosta Rika 6 Februari lalu.

Pemain berusia 23 tahun itu telah memiliki 18 caps bersama Panama dan telah mencetak dua gol. Di DCU, Sanchez telah melakoni debutnya melawan Houston Dynam0 2 Maret dimana DCU takluk dari tuan rumah 0-2. Saat itu ia bermain 17 menit sebagai pemain pengganti.

Dengan dipanggilnya Sanchez, maka terdapat peluang bagi pemain asal Indonesia, Syamsir Alam untuk turun pada laga melawan Columbus. Saat ini terdapat empat pemain yang memperebutkan tempat sebagai gelandang kanan di DC. Selain Sanchez dan Syamsir, terdapat juga Nicky DeLeon dan Kyle Walker.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/mls-sepakbola/13/03/10/mjeztz-gelandang-dc-united-dipanggil-timnas-panama
 

Felix Siauw: Orang Pacaran adalah Orang “Buangan”


dakwatuna.com – Jakarta. Islamic Inspirator, Felix Siauw, dalam sebuah acara bedah buku di Islamic Book Fair 2013, mengatakan bahwa jika ingin mencari pasangan hidup pastilah mengharapkan yang beriman dan bertaqwa, sementara orang yang beriman sudah pasti tidak menempuh jalur pacaran dan tidak akan ditemui lewat jalur pacaran.
“Laki-laki yang taat pada Allah SWT berarti dia beriman, ketika dia beriman maka dia tidak pacaran,” ungkapnya di panggung utama IBF 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Sabtu (9/3).
Orang yang pacaran itu, lanjutnya, adalah orang-orang “buangan” yang tidak lulus seleksi keberanian menghadapi hidup. “Laki-laki yang pacaran itu masuk jurusan buangan, karena jurusan utama adalah nikah, artinya yang pacaran itu karena tidak lolos jurusan nikah,” ujar penulis buku “Udah Putusin Aja” ini.
Felix juga menjelaskan latar belakang dipilihnya judul buku tersebut, pemilihan ini karena selain merupakan maksiat, orang yang pacaran itu tidak siap nikah maka Udah Putusin Aja.
Menurutnya, beda khitbah dengan pacaran, khitbah itu sudah jelas waktunya. “Sudah ketemu dengan walinya,” jelasnya.
Di akhir acara, ia berpesan agar tidak melanjutkan kemaksiatan dengan pacaran yang hanya berakibat pada kerusakan dan keburukan. “Hati-hati dengan pacaran, udah putusin aja,” pungkasnya di hadapan pengunjung yang memadati tribun dan ruang acara. (inshany/mahdi/hdn)

Citizen Journalist di Suriah, antara kamera dan AK47




Citizen journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
sumber: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf

Citizen journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Citizen journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Citizen journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf

Wirianingsih: Untuk Lahirkan Generasi Qur’ani, Suami-Istri Harus Satu Visi


Jakarta – Islamic Book Fair 2013 menggelar Talkshow “Menuju Umat Berkarakter Qur’ani Perspektif Keluarga”, yang menghadirkan para tokoh dan konsultan muslimah dalam masalah keluarga. Dalam talkshow tersebut, Wirianingsih, ibu pencetak sepuluh anak penghafal Al-Quran mengatakan bahwa, istilah hafiz saat ini mengalami pergeseran.

“Istilah hafiz seharusnya bukan hanya hafal Qur’an tapi juga hafal hadits,” ungkapnya di panggung utama IBF 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Selasa (5/3).

Masyarakat kita, lanjutnya, menganggap bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an atau hafiz dianggap luar biasa. “Ini karena Al-Quran memang luar biasa serta di sisi lain, umat dirasa masih jauh dari Al-Quran,” ujarnya.

Menurutnya, setiap melahirkan anak itu menambah pengalaman sehingga memperbaiki pola mengasuh anak untuknya dan suami. Baginya kesuksesan mendidik anak harus membutuhkan sinergi antara suami dan istri. “Saya tidak sendiri melainkan bersama suami, maka suami-istri harus memiliki satu visi, ayah merancang GBHK/Garis Besar Haluan Keluarga dan ibu menjadi UPT/Unit Pelaksana Teknis untuk merealisasikannya,” terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa yang pertama rumah itu harus jadi sekolah, artinya punya target, kurikulum, sistem, serta evaluasi. Selain itu poin pentingnya adalah harus ada visi yang jelas, kerjasama yang kompak, istiqamah, lingkungan baik, serta tutup dengan doa.

Sementara itu, juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah, menyatakan bahwa saat ini telah terjadi serangan melalui media untuk merusak generasi kita.

“Tantangan ada di orang tua dan orang tua harus punya kesiapan dan ilmu, serta kesabaran untuk melakukannya,” ujarnya.

Indonesia, sambungnya, dalam data tercatat di tahun 2012 sebagai negara pemasok PSK anak terbesar di Asia Tenggara. Tidak bisa dipungkiri anak-anak saat ini mudah tersulut sehingga melakukan tindakan kriminal yang membahayakan yang lainnya.

Senada dengan Iffah, Konsultan Keluarga Islam, Ratu Erma Rahmayanti, menuturkan bahwa, generasi itu suatu komunal yang tidak hanya berlangsung 1-2 tahun saja tapi terus menerus. Generasi Berkarakter Qur’ani, menurutnya adalah generasi yang di dalamnya terdapat pemikirannya mengenai hukum Islam yang terdiri dari hukum-hukum Al-Quran, hadits, ijma’, dan qiyas.

“Sosok Generasi Berkarakter Qur’ani ialah generasi yang pada setiap pemenuhan hidup mereka disesuaikan dengan Qur’an atau Islam yang secara ringkas generasi berkarakter Qur’ani adalah anak manusia yang memiliki kepribadian Islam yakni yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islami,” jelasnya.

Selain itu, dosen Universitas Indonesia, Dr. Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, mengatakan, tantangan itu memang berat tapi kita bisa merubahnya menjadi peluang-peluang, bahkan setiap anak ketika lahir sudah diberikan potensi untuk condong keberpihakan pada Allah SWT.

“Pastikan dalam mendidik anak harus ada cinta, kasih sayang, komunikasi, disiplin, dan konsistensi,” pungkasnya.

Di akhir diskusi, Ratu Erma, menegaskan bahwa aqidah adalah landasan paling utama dan terpenting. Selain Ratu, Iffah Ainur Rochmah juga menegaskan bahwa, untuk membentuk umat berkarakter Qur’ani, tidak hanya keluarga yang melakukan upayanya.

“Harus ada sebuah pola yang sistematis, antara keluarga yang membentuk keluarganya menjadi Islami dan terpaut pada Al-Qur’an, masyarakat juga kondusif untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, serta yang tidak kalah penting adalah negara dalam menerapkan hukum-hukum Al-Qur’an atau Islam di tengah-tengah kehidupan kita,” pungkasnya. (mahdi/hdn)

Sumber:http://www.dakwatuna.com/2013/03/28835/wirianingsih-untuk-lahirkan-generasi-qurani-suami-istri-harus-satu-visi/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+dakwatunacom+%28dakwatuna.com%29#axzz2MiwrD1pE

Published with Blogger-droid v2.0.10

LSI: Kasus Korupsi Demokrat dan PKS Berdampak Beda

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Totok Izul Fatah menilai kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq memberi dampak yang berbeda bagi kedua partai.

"Contoh nyatanya, dua calon gubernur Jawa Barat yang diusung oleh dua partai tersebut (Demokrat dan PKS), di mana mantan pemimpin partainya sama-sama menjadi tersangka, tetapi efeknya berbeda. Kasus Demokrat begitu efektif 'merusak' citra kandidat yang diusungnya (Dede Yusuf), sedangkan kasus PKS tidak," kata Totok di Jakarta, Senin (4/3).

Dampak yang berbeda tersebut, menurut dia, disebabkan kasus dugaan korupsi suap impor daging sapi mantan presiden PKS Luthfi tidak terlalu masif diberitakan di media dibandingkan kasus dugaan korupsi Hambalang yang melibatkan nama Anas Urbaningrum.

"Padahal 40 persen responden dari warga Jawa Barat mengetahui bahwa presiden PKS menjadi tersangka kasus korupsi, namun hal itu tidak terasosiasi secara langsung kepada cagub Ahmad Heryawan (Aher) yang diusung oleh partai itu," ujarnya.

Hal itu, kata dia, terbukti dari hasil survei yang menyatakan hanya 30 persen responden yang tahu bahwa cagub Jawa Barat Aher diusung oleh beberapa partai, dan salah satunya adalah PKS.

Dia berpendapat tidak identiknya Aher dengan PKS dan kasus dugaan korupsi Presiden PKS karena publikasi yang tidak terlalu besar dan tidak berkepanjangan terhadap kasus tersebut.

"Ini menarik, kasus PKS status hukumnya dari awal sudah jelas tersangka, tetapi efeknya kecil terhadap Aher. Kasus LHI itu teredam dan tidak berlarut-larut di media karena reaksi para kader PKS yang tidak ekstrem ketika pemimpin tertingginya diduga berbuat korupsi," tuturnya.

Lain halnya dengan kasus Demokrat, katanya, 50 persen lebih responden yang merupakan calon pemilih dalam Pilkada Jabar mengetahui bahwa Cagub Dede Yusuf diusung oleh Partai Demokrat.

Toto mengatakan, sebelum pelaksanaan Pilkada Jabar, sempat tersebar luas foto Dede Yusuf bersanding dengan Anas Urbaningrum, padahal menjelang hari H Pilkada Jabar, Anas sedang menjadi sorotan media karena diduga terlibat kasus korupsi Hambalang.

"Pihak Dede juga tidak tahu siapa yang sebarkan itu. Mungkin dikira akan membantu, malah ternyata memberi efek negatif. LSI memang belum melakukan survei lebih lanjut mengenai hal ini. Namun, setidaknya kami melihat Dede sudah terasosiasi dengam Demokrat," katanya.

"Ini tentu juga dipengaruhi oleh 'usia panjang' pemberitaan tentang Demokrat di media. Jadi, cerita kisruh Demokrat itu memberi kontribusi negatif bagi cagub Dede Yusuf," kata Toto menambahkan. (Antara/Agt)

Sumber:http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/04/1/135754/LSI-Kasus-Korupsi-Demokrat-dan-PKS-Berdampak-Beda

Bedanya Anas dan LHI | Sebuah Catatan Hukum

Oleh Deddy Armyadi* Inti sari : Jelas da perbedaan penyikapan KPK terhadap Anas dan Ust Lutfi Hasan Ishaq , apa saja perbedaanya, Nah silahkan baca baik2, jangan sampai kita dibodohi tirani kekuasaan 1. ALAT BUKTI B. PENJARA C. SEBERAPA BANYAK BARANG BUKTI YG BISA DIHILANGKAN? Asyik nya Dunia Maya dengan segala fasilitasnya adalah seseorang bisa mengekspresikan apa yang ada dibenaknya untuk publik. Gonjang ganjing penegakan hukum pasti mengganggu setiap orang baik-baik di Indonesia, yaitu ketika supremasi hukum yang didasari ketegasan dan keadilan diabaikan. Mengapa saya buat tulisan ini, hanya untuk mengajak semua pihak menjadi unsur perbaikan, karena saya yakin betul, setiap manusia yang punya nyawa berpengaruh terhadap baik dan buruknya kondisi suatu kaum. Mungkin lebiha baik, mungkin lebih buruk. Tergelitik saya membuat tulisan ini, ketika sekitar 30 menit yg lalu, saya lihat Bang Anas diwawancara dalam kondisi bebas, dengan sarung berwarna gelapnya, sangat terawat mungkin baru mandi karena segar bugar, sambil makan bakso (mungkin) di dalam mangkok. Anas Urbaningrum inilah yang sekarang heboh dan didukung hampir semua media sebagai korban konspirasi, terdzolimi, dan korban makar, karena ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya ditetapkan pula sebagai tersangka Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK. Tak sampai 15 jam saja langsung dipenjara LHI ini. Apa bedanya? mari kita lihat perbedaan keduanya. A. ALAT BUKTI Sesuai dengan Undang-undang, Alat bukti adalah : Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah sebagai berikut a. Keterangan Saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat; d. Petunjuk; e. Keterangan terdakwa. Alat Bukti Anas Alat bukti untuk Anas sudah didapat KPK lebih dari 1 tahun yang lalu, dan khalayak umum pun sudah mengetahui alat buktinya, yaitu: Keterangan Nazarudin, keterangan Angelina sondakh, Rosa, yang sudah divonis, dan lain lain. Plus dengan barang bukti pula seperti transaksi penjualan perusahaan Nazarudin kepada Anas dan istrinya, juga Toyota Harier. Alat Bukti LHI Adapun untuk LHI, alat bukti masih dirahasiakan. Yang saya duga adalah pengakuan Ahmad Fatonah bahwa ia akan menyuap. Walau pun tidak ada bukti transaksional uang yang konon 1 milyar itu untuk LHI. Tentunya khalayak umum sudah mengetahui bahwa posisi 1M ini: 980 juta berada di mobil AF, 10 juta di tas pribadi AF, dan 10 juta sudah menjadi milik Maharani dalam bentuk pemberian. Seluruh uang ini ditarik kembali oleh KPK, dan KPK menetapkan jumlahnya penuh untuk suap kepada LHI. Alat bukti ketiga kemungkinannya adalah pertemuan di Medan. Semoga saja KPK punya kartu truf untuk menunjukan bahwa pertemuan itu ada misi tersembunyi utk suap menyuap. Karena yang terekspos ke media pertemuan itu adalah pertemuan "adu data" antara Mentan dengan Asosiasi tentang kebutuhan impor daging. Dan sampai detik ini tidak ada penambahan kuato impor. B. PENJARA Kasus Anas Anas sekalipun tersangka, tidak mengenal penjara sebagaimana Luthfi yang langsung dipenjara. Tak terbayang oleh saya, bila Anas sampai dipenjara seperti LHI. Baru ditetapkan tersangka saja, semua menjerit karena menganggap Anas korban perbuatan dzolim dan konspirasi. Sejauh ini Anas masih sempat liburan ke Batam. Sebgaimana juga Andi Malarangeng, yang bebas berkeliaran sekitar 3 bulan lamanya. Atau tersangka lain seperti Emir Muis yang masih menghirup udara bebas setelah hampir setahun ia ditetapkan sebagai tersangka. Kasus LHI Tentunya KPK punya alasan, yaitu LHI khawatir kabur seperti Nazarudin, dan khawatir menghilangkan barang bukti. Tentunya kekhawatiran ini tidak terjadi pada diri Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, juga Emir Muis. C. SEBERAPA BANYAK BARANG BUKTI YG BISA DIHILANGKAN? Mari kita lihat perbedaan kasus... Hambalang Hambalang sudah merugikan uang negara sampe TRILYUNAN. Bila uang ini belum habis, tentu masih tercecer. Baik bentuk uang, ataupun bentuk properti sebagaimana penyitaan KPK kepada aset Joko Susilo dalam kasus simulator SIM. Semoga saja para tersangka ini baik hati sebagaimana husnudzon KPK tidak akan menghilangkan barang bukti. Karena ini jelas barang bukti masih berceceran. Kasus Impor Daging Kasus Impor Daging: Tidak ada uang negara yg dirugikan yang ada kalau toh benar itu uang suap, itu adalah uang PT Indoguna yang berpindah tangan ke Ahmad Fatonah. Dan tidak ada bukti transaksional antara AF ke Luthfi Hasan. Baik serah terima, transfer, atau apapun. Konon katanya 1M yang tidak berada di tangan Luthfi Hasan, dan tidak juga dalam posisi segedung dengan Luthfi Hasan, tidak juga berada dalam suatu kawasan, adalah persekot dari 40M yang akan di bayar kemudian hari. Barangkali KPK khawatir Luthfi Hasan akan menghilangkan uang yg AKAN DIA TERIMA ENTAH 2 bulan lagi, mungkin 5 bulan lagi, mungkin 1 tahun lagi. Tapi rasanya aneh, apanya yg mau dihilangkan? uangnnya aja tidak ada? baru KATANYA DIKEMUDIAN HARI dan perlu diketahui pula Kuota Impor daging tidak akan bertambah. Sementara demikianlah notes ini dibuat. Saya teringat ucapan "lau saroqot fatimah" (silahkan gogling tentagn hal ini) untuk menutup notes ini dengan sebuah POSTULAT dari seorang yg bernama Muhammad ibn Abdullah, dan bergelar hamba dan Rosul Allah.. yang inti sari dari postulatnya: "Beliau jamin hancurnya suatu bangsa, adalah ketika penegak hukum tebang pilih. Atas tuan-tuan, pelanggaran hukum tidak akan ditegakkan secara adil dan tegas, adapun untuk yang bukan tuan-tuan bahkan lawan dari tuan-tuan, hukum itu tegas bahkan kebablasan ditegakan". Berbanggalah Anas, sedemikian belanya rakyat dari bangsa ini yang membelanya dari perbuatan dzolim, sekalipun bukti sudah terang benderan diketahui umum. [] SUMBER: http://www.facebook.com/groups/kaderpekaes/permalink/269689336496684/

Politik Adu Domba

Politik adu domba telah terkenal di
Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda.
Bangsa penjajah saat itu menamakannya
sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah
strategi yang digunakan oleh pemerintah
penjajahan Belanda untuk kepentingan
politik, militer dan ekonomi. Politik adu
domba digunakan untuk mempertahankan
kekuasaan dan pengaruh penjajahan
Belanda di Indonesia.
Secara prinsip, praktik politik adu domba
adalah memecah belah dengan saling
membenturkan (mengadu domba) kelompok
besar yang dianggap memiliki pengaruh dan
kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan
tersebut terpecah-belah menjadi kelompok-
kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan
demikian kelompok-kelompok kecil tersebut
dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai.
Unsur-unsur yang digunakan dalam praktik
politik jenis ini adalah;
1. menciptakan atau mendorong
perpecahan dalam masyarakat untuk
mencegah terbentuknya sebuah aliansi
yang memiliki kekuatan besar dan
berpengaruh,
2. memunculkan banyak tokoh baru
(tokoh boneka?) yang saling bersaing
dan saling melemahkan,
3. mendorong ketidak percayaan dan
permusuhan antar masyarakat,
4. mendorong konsumerisme yang pada
akhirnya memicu timbulnya KKN
(korupsi, kolusi dan nepotisme).
Di negara asalnya Belanda, politik devide et
impera sudah lama tak digunakan lagi.
Belanda saat ini saat menjunjung tinggi hak
asasi manusia (HAM). Namun justru di
Indonesia politik itu nampaknya masih
membekas dalam dan masih saja
digunakan. Apalagi setelah era reformasi
yang oleh banyak pihak dinilai salah
kaprah. Legislatif seperti berlawanan
dengan eksekutif, partai A saling
melemahkan partai B, begitu sebaliknya
dan seterusnya. Padahal justru seharusnya
saling bekerjasama dan saling memperkuat
dan melengkapi.
Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari
warga masyarakat biasa sampai warga kelas
atas bisa jadi objek sasaran. Sesama
pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara
masalah kecil bisa berkembang menjadi
konflik yang besar. Perbedaan agama, suku
dan sebagainya bisa memunculkan percikan
api konflik yang bila diberi bensin segera
berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah
banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari.
Media massa seperti bertepuk tangan dan
seolah-olah ikut memberi semangat melihat
kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan
reformasi dan demokrasi?
Dalam politik adu domba, konflik sengaja
diciptakan. Perpecahan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya
aliansi yang bisa menentang penjajah
(imperialisme), entah itu kekuasaan di
pemerintahan, di partai, kelompok di
masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak
atau orang-orang yang bersedia bekerja
sama dengan kekuasaan, dibantu atau
dipromosikan, mereka yang tidak bersedia
bekerjasama, segera disingkirkan.
Ketidak percayaan terhadap pimpinan atau
suatu kelompok sengaja diciptakan agar
pemimpin atau kelompok tersebut tidak
tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak
hanya ketidak percayaan, bahkan
permusuhan pun sengaja disemai. Teknik
yang digunakan adalah agitasi, propaganda,
desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti
itu tumbuh subur saat ini.
Di zaman penjajahan Belanda, mereka
menggandeng beberapa pribumi untuk
menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan
yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka
dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya
sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba
dengan raja lain yang pada akhirnya
menimbulkan peperangan dan perpecahan.
Alhasil saat itu tidak muncul sebuah
kerajaan yang besar dan kuat.
Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di
tengah era informasi yang sangat liberal,
praktik adu domba itu menjadi tontonan
sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi
berita-berita tentang perseteruan antar
kelompok untuk memperebutkan
kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki,
saling sikut dengan intrik-intrik politik yang
sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu,
disadari atau tidak, dilakukan sedemikian
rupa untuk saling menghancurkan.
Di era merdeka dan modern seperti saat
ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba
aduan oleh siapapun dan pihak manapun.
Imperalisme maupun neo imperalisme,
tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang
kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat
negeri asal penggagas berdirinya Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Password untuk mengatasi masalah ini
sama dengan yang kita gunakan saat
mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu
persatuan dan kesatuan. Mari bersatu
menghimpun kekuatan bersama, jangan
mau dinina-bobokan dan lalu diadu domba.
Indonesia adalah negara besar dan memiliki
potensi yang besar. Dengan kesatuan.

Sumber:www.hasanalbanna.com/politik-adu-domba/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+hasanalbanna+%28hasanalbanna.com%29

Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa

Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa, beliau berkata :  الفصل الثاني في أسرار الصوم وشروطه الباطنة  اعلم ...