Konflik Mesir dan Perang Suriah Sudah Diprediksi Dalam Alquran
JAKARTA -- Konflik yang terjadi di Mesir rupanya telah tertulis dalam Alquran. Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan, ayat Alquran yang memprediksi konflik Mesir terdapat dalam Surat At-Tin ayat 1-3.
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Makkah) ini yang aman," tutur Bachtiar membacakan terjemahan Surat At-Tin ayat 1-3, saat menjadi narasumber dalam Forum Solidaritas Muslimah Indonesia untuk Derita Mesir di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Sabtu (21/9).
Bachtiar berkata, tafsir dari surat tersebut adalah, "Demi bumi tin di Damaskus (Suriah), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yg ada di Sinai (Mesir). Dan demi kota Makkah yang aman."
Jika dilihat dari kacamata sederhana surat At-Tin, lanjutnya, maka konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Mesir, adalah perang global yang sudah Allah takdirkan. Perang itu, kata Bachtiar, bahkan melibatkan seluruh dunia.
Karenanya, Bachtiar menilai, persoalan Mesir jangan dianggap sebagai konflik politik. Sebab, jika melihat persoalan tersebut dari sisi politik saja maka hati akan terasa kosong. Lebih dari itu, ia melihat Allah telah menyiapkan skenario besar dalam peristiwa ini.
Bachtiar meyakini, akhir dari konflik Mesir juga sudah termaktub dalam Surat Al-Qashshash ayat 5 yang menceritakan kisah Musa melawan Firaun.
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)," bunyi terjemahan dari Surat Al-Qashshash ayat 5.
"Pada akhirnya di ayat itu digambarkan orang-orang yang dilemahkan nanti akan dikuatkan dan diwariskan kekuasaan di Mesir," tutup Bachtiar
SUMBER: http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/09/21/mth087-konflik-mesir-dan-perang-suriah-sudah-diprediksi-dalam-alquran
‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’, Kritikan Mantan Seorang Jurnalis TV
BERADA dalam posisi nyaman, punya jabatan tinggi, bergaji hampir puluhan juta, biasanya membuat seseorang tidak lagi memikirkan idealisme. Kebanyakan orang justru akan mempertahankan posisinya seperti itu, apalagi di tengah arus materialisme yang terus melanda umat manusia.
Alhamdulillah, Dua Manajer Asal Korea Peluk Islam
Remy Bolboul, seorang mualaf mengatakan, kisah Siti Khadijah dan tragedi 9/11 menjadi momentum keputusannya untuk memeluk Islam.
Namun, kata Remy, tidak mudah bagi mualaf untuk menjalani kehidupan dengan identitas barunya. Tapi niatan tulus Remy membuatnya kuat menjalani perubahan itu.
Secara terpisah, Imam Masjid Windsor, Mohammed mengatakan, peran masyarakat untuk membimbing masyarakat mengambil keputusan untuk memeluk Islam sangat minim. Padahal mereka perlu bantuan itu lantaran konsekuensi dari konversi adalah penolakan dari lingkungan dan Keluarga.
Media “Partai”, Kasus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Momentum Politik
Populasi Muslim Amerika Meroket
Awas!!! Dahsyat RCTI Hina Islam, SebutIslam Pro Setan
JAKARTA (voa-islam.com) – Sangat
disayangkan, p ernyataan Chef Renne Tanjung
yang menyebut kata majemuk ‘Islam Prosetan’
pada tayangan “Dahsyat” RCTI, 24 Desember
2012 lalu, telah menghina Islam. Program acara
Dahsyat yang disiarkan RCTI harus dihentikan
dan dibubarkan.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah
menyampaikan hasil penilaian Majelis Ulama
Indonesia (MUI) ke RCTI terkait penayangan
Program Siaran “Dahsyat” tanggal 24 Desember
2012 dalam adegan yang menyebutkan kata
“Islam Prosetan”. Penilaian Majelis Ulama
Indonesia terlampir berdasarkan permintaan
KPI Pusat pada surat No. 40/K/KPI/01/13
tertanggal 16 Januari 2013 dan surat No. 137/
K/KPI/03/13 tertanggal 4 Maret 2013 seperti
dilansir kpi.go.id.
Hasil penilaian Majelis Ulama Indonesia dalam
surat No. B-78/MUI/III/2013 tertanggal 4
Maret 2013 (surat terlampir) atas pogram
melengkapi isi surat sanksi administratif
penghentian sementara KPI No. 138/K/
KPI/03/13 tertanggal 5 Maret 2013.
KPI meminta, surat sanksi administratif KPI dan
hasil penilaian MUI menjadi bahan evaluasi
internal RCTI untuk memperbaiki program
tersebut di masa mendatang.
Adapun penilaian MUI terhadap pelanggaran di
dalam acara “Dahsyat” yakni dengan
mempertimbangkan beberapa ayat Al Qur’an
dan hadits yang mengadung pengertian betapa
buruknya kata “Syaitan” (Setan). Ayat-ayat Al
Qur’an yang dikutip yakni QS.
Annisa’/4:119-120, QS. Al Baqarah/2:168-169,
QS. Albaqarah/2:208, QS. Annisa’/4:38, QS. Al-
An’am/6:142, dan QS. Al-A’raf/7:22.
Sedangkan hadits nabi yang dikutip yakni Shahih
Muslim, hadits ke-587, juz I halaman 146.
Menurut kesimpulan dengan memperhatikan
hal-hal di atas, MUI berpendapat penggunaan
kata majemuk “Islam prosetan” adalah tidak
benar dan buruk. Islam sama sekali tidak
prosetan, bahkan berseberangan.
Diakhir suratnya, MUI merekomendasikan,
menghendaki lembaga penyiaran yang memberi
kesempatan tampilnya kata majemuk tersebut
diberi sanksi sesuai dengan peraturan
perundangan. Kemudian untuk menghindari
kesalahan sejenis terjadi lagi, MUI meminta
setiap program harus direkam lebih dulu agar
lembaga penyiaran terlebih dahulu melakukan
penyensoran.
Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI
Jakarta, Habib Salim Alatas atau Habib Selon,
(8/3/2013) menilai, "Acara Dahsyat RCTI telah
berkali-kali melecehkan Islam. Pernyataan
‘Islam prosetan’ itu menjadi puncaknya. FPI
menuntut pembubaran acara Dahsyat RCTI,”
tegas Habib Selon.
Habib Selon juga mendesak menejemen RCTI
agar segera menghentikan acara musik Dahsyat,
karena Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah
menyatakan acara Dahsyat, 24 Desember 2012,
menodai Islam.
“Jika RCTI tetap menyiarkan Dahsyat dan
melecehkan teguran KPI serta rekomendasi
MUI, FPI akan turun tangan menghentikan dan
membubarkan Dahsyat,” pungkas Habib Selon.
Di surat sanksi KPI dijelaskan pelanggaran yang
dilakukan program Dahsyat yakni
ditayangkannya adegan Raffi Ahmad bertanya
kepada bintang tamu, Chef Renne Tanjung,
“Kamu Natal nggak?” dan kemudian Chef Renne
menjawab: “Nggak!” Lalu Raffi bertanya, “Kamu
nggak Natal ya?” Chef Renne menjawab,
“Nggak, saya Islam prosetan.”
Hal itu menjadi kesimpulan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) terkait pernyataan bintang
tamu Chef Renne, saat menjawab pertanyaan
presenter Dahsyat, Raffi Ahmad. Penayangan
adegan yang menyebutkan Islam prosetan itu,
dikategorikan sebagai pelanggaran atas
penghormatan terhadap nilai-nilai Islam serta
perlindungan untuk anak dan remaja.
Hasil penilaian MUI dalam surat No. B-78/MUI/
III/2013 tertanggal 4 Maret 2013, melengkapi
isi surat sanksi administratif penghentian
sementara KPI No. 138/K/KPI/03/13 tertanggal
5 Maret 2013. [Desastian/s alam-online]
Sumber:
Gelandang DC United Dipanggil Timnas Panama
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Gelandang kanan DC United (DCU) Marcos Sanchez dipanggil Timnas Panama yang akan berlaga di dua laga kualifikasi Piala Dunia 2014 melawan Jamaika dan Honduras 22 dan 26 Maret mendatang. Dengan demikian, Sanchez akan absen membela DCU itu pada laga kandang melawan Columbus Crew 23 Maret mendatang.
Seperti dilansir situs resmi DCU, Sanchez adalah pemain DCU berstatus pinjaman dari klub Panama, Tauro FC, yang didatangkan pada 26 Februari lalu. Ia memang sering menjadi andalan Timnas Panama di berbagai ajang. Penampilan terakhirnya adalah saat memberikan assist pada laga yang berakhir 2-2 melawan Kosta Rika 6 Februari lalu.
Pemain berusia 23 tahun itu telah memiliki 18 caps bersama Panama dan telah mencetak dua gol. Di DCU, Sanchez telah melakoni debutnya melawan Houston Dynam0 2 Maret dimana DCU takluk dari tuan rumah 0-2. Saat itu ia bermain 17 menit sebagai pemain pengganti.
Dengan dipanggilnya Sanchez, maka terdapat peluang bagi pemain asal Indonesia, Syamsir Alam untuk turun pada laga melawan Columbus. Saat ini terdapat empat pemain yang memperebutkan tempat sebagai gelandang kanan di DC. Selain Sanchez dan Syamsir, terdapat juga Nicky DeLeon dan Kyle Walker.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/mls-sepakbola/13/03/10/mjeztz-gelandang-dc-united-dipanggil-timnas-panama
Felix Siauw: Orang Pacaran adalah Orang “Buangan”
dakwatuna.com – Jakarta. Islamic Inspirator, Felix Siauw, dalam sebuah acara bedah buku di Islamic Book Fair 2013, mengatakan bahwa jika ingin mencari pasangan hidup pastilah mengharapkan yang beriman dan bertaqwa, sementara orang yang beriman sudah pasti tidak menempuh jalur pacaran dan tidak akan ditemui lewat jalur pacaran.
“Laki-laki yang taat pada Allah SWT berarti dia beriman, ketika dia beriman maka dia tidak pacaran,” ungkapnya di panggung utama IBF 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Sabtu (9/3).
Orang yang pacaran itu, lanjutnya, adalah orang-orang “buangan” yang tidak lulus seleksi keberanian menghadapi hidup. “Laki-laki yang pacaran itu masuk jurusan buangan, karena jurusan utama adalah nikah, artinya yang pacaran itu karena tidak lolos jurusan nikah,” ujar penulis buku “Udah Putusin Aja” ini.
Felix juga menjelaskan latar belakang dipilihnya judul buku tersebut, pemilihan ini karena selain merupakan maksiat, orang yang pacaran itu tidak siap nikah maka Udah Putusin Aja.
Menurutnya, beda khitbah dengan pacaran, khitbah itu sudah jelas waktunya. “Sudah ketemu dengan walinya,” jelasnya.
Di akhir acara, ia berpesan agar tidak melanjutkan kemaksiatan dengan pacaran yang hanya berakibat pada kerusakan dan keburukan. “Hati-hati dengan pacaran, udah putusin aja,” pungkasnya di hadapan pengunjung yang memadati tribun dan ruang acara. (inshany/mahdi/hdn)
Citizen Journalist di Suriah, antara kamera dan AK47
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Wirianingsih: Untuk Lahirkan Generasi Qur’ani, Suami-Istri Harus Satu Visi
Jakarta – Islamic Book Fair 2013 menggelar Talkshow “Menuju Umat Berkarakter Qur’ani Perspektif Keluarga”, yang menghadirkan para tokoh dan konsultan muslimah dalam masalah keluarga. Dalam talkshow tersebut, Wirianingsih, ibu pencetak sepuluh anak penghafal Al-Quran mengatakan bahwa, istilah hafiz saat ini mengalami pergeseran.
“Istilah hafiz seharusnya bukan hanya hafal Qur’an tapi juga hafal hadits,” ungkapnya di panggung utama IBF 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Selasa (5/3).
Masyarakat kita, lanjutnya, menganggap bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an atau hafiz dianggap luar biasa. “Ini karena Al-Quran memang luar biasa serta di sisi lain, umat dirasa masih jauh dari Al-Quran,” ujarnya.
Menurutnya, setiap melahirkan anak itu menambah pengalaman sehingga memperbaiki pola mengasuh anak untuknya dan suami. Baginya kesuksesan mendidik anak harus membutuhkan sinergi antara suami dan istri. “Saya tidak sendiri melainkan bersama suami, maka suami-istri harus memiliki satu visi, ayah merancang GBHK/Garis Besar Haluan Keluarga dan ibu menjadi UPT/Unit Pelaksana Teknis untuk merealisasikannya,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa yang pertama rumah itu harus jadi sekolah, artinya punya target, kurikulum, sistem, serta evaluasi. Selain itu poin pentingnya adalah harus ada visi yang jelas, kerjasama yang kompak, istiqamah, lingkungan baik, serta tutup dengan doa.
Sementara itu, juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah, menyatakan bahwa saat ini telah terjadi serangan melalui media untuk merusak generasi kita.
“Tantangan ada di orang tua dan orang tua harus punya kesiapan dan ilmu, serta kesabaran untuk melakukannya,” ujarnya.
Indonesia, sambungnya, dalam data tercatat di tahun 2012 sebagai negara pemasok PSK anak terbesar di Asia Tenggara. Tidak bisa dipungkiri anak-anak saat ini mudah tersulut sehingga melakukan tindakan kriminal yang membahayakan yang lainnya.
Senada dengan Iffah, Konsultan Keluarga Islam, Ratu Erma Rahmayanti, menuturkan bahwa, generasi itu suatu komunal yang tidak hanya berlangsung 1-2 tahun saja tapi terus menerus. Generasi Berkarakter Qur’ani, menurutnya adalah generasi yang di dalamnya terdapat pemikirannya mengenai hukum Islam yang terdiri dari hukum-hukum Al-Quran, hadits, ijma’, dan qiyas.
“Sosok Generasi Berkarakter Qur’ani ialah generasi yang pada setiap pemenuhan hidup mereka disesuaikan dengan Qur’an atau Islam yang secara ringkas generasi berkarakter Qur’ani adalah anak manusia yang memiliki kepribadian Islam yakni yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islami,” jelasnya.
Selain itu, dosen Universitas Indonesia, Dr. Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, mengatakan, tantangan itu memang berat tapi kita bisa merubahnya menjadi peluang-peluang, bahkan setiap anak ketika lahir sudah diberikan potensi untuk condong keberpihakan pada Allah SWT.
“Pastikan dalam mendidik anak harus ada cinta, kasih sayang, komunikasi, disiplin, dan konsistensi,” pungkasnya.
Di akhir diskusi, Ratu Erma, menegaskan bahwa aqidah adalah landasan paling utama dan terpenting. Selain Ratu, Iffah Ainur Rochmah juga menegaskan bahwa, untuk membentuk umat berkarakter Qur’ani, tidak hanya keluarga yang melakukan upayanya.
“Harus ada sebuah pola yang sistematis, antara keluarga yang membentuk keluarganya menjadi Islami dan terpaut pada Al-Qur’an, masyarakat juga kondusif untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, serta yang tidak kalah penting adalah negara dalam menerapkan hukum-hukum Al-Qur’an atau Islam di tengah-tengah kehidupan kita,” pungkasnya. (mahdi/hdn)
Sumber:http://www.dakwatuna.com/2013/03/28835/wirianingsih-untuk-lahirkan-generasi-qurani-suami-istri-harus-satu-visi/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+dakwatunacom+%28dakwatuna.com%29#axzz2MiwrD1pE
LSI: Kasus Korupsi Demokrat dan PKS Berdampak Beda
Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Totok Izul Fatah menilai kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq memberi dampak yang berbeda bagi kedua partai.
"Contoh nyatanya, dua calon gubernur Jawa Barat yang diusung oleh dua partai tersebut (Demokrat dan PKS), di mana mantan pemimpin partainya sama-sama menjadi tersangka, tetapi efeknya berbeda. Kasus Demokrat begitu efektif 'merusak' citra kandidat yang diusungnya (Dede Yusuf), sedangkan kasus PKS tidak," kata Totok di Jakarta, Senin (4/3).
Dampak yang berbeda tersebut, menurut dia, disebabkan kasus dugaan korupsi suap impor daging sapi mantan presiden PKS Luthfi tidak terlalu masif diberitakan di media dibandingkan kasus dugaan korupsi Hambalang yang melibatkan nama Anas Urbaningrum.
"Padahal 40 persen responden dari warga Jawa Barat mengetahui bahwa presiden PKS menjadi tersangka kasus korupsi, namun hal itu tidak terasosiasi secara langsung kepada cagub Ahmad Heryawan (Aher) yang diusung oleh partai itu," ujarnya.
Hal itu, kata dia, terbukti dari hasil survei yang menyatakan hanya 30 persen responden yang tahu bahwa cagub Jawa Barat Aher diusung oleh beberapa partai, dan salah satunya adalah PKS.
Dia berpendapat tidak identiknya Aher dengan PKS dan kasus dugaan korupsi Presiden PKS karena publikasi yang tidak terlalu besar dan tidak berkepanjangan terhadap kasus tersebut.
"Ini menarik, kasus PKS status hukumnya dari awal sudah jelas tersangka, tetapi efeknya kecil terhadap Aher. Kasus LHI itu teredam dan tidak berlarut-larut di media karena reaksi para kader PKS yang tidak ekstrem ketika pemimpin tertingginya diduga berbuat korupsi," tuturnya.
Lain halnya dengan kasus Demokrat, katanya, 50 persen lebih responden yang merupakan calon pemilih dalam Pilkada Jabar mengetahui bahwa Cagub Dede Yusuf diusung oleh Partai Demokrat.
Toto mengatakan, sebelum pelaksanaan Pilkada Jabar, sempat tersebar luas foto Dede Yusuf bersanding dengan Anas Urbaningrum, padahal menjelang hari H Pilkada Jabar, Anas sedang menjadi sorotan media karena diduga terlibat kasus korupsi Hambalang.
"Pihak Dede juga tidak tahu siapa yang sebarkan itu. Mungkin dikira akan membantu, malah ternyata memberi efek negatif. LSI memang belum melakukan survei lebih lanjut mengenai hal ini. Namun, setidaknya kami melihat Dede sudah terasosiasi dengam Demokrat," katanya.
"Ini tentu juga dipengaruhi oleh 'usia panjang' pemberitaan tentang Demokrat di media. Jadi, cerita kisruh Demokrat itu memberi kontribusi negatif bagi cagub Dede Yusuf," kata Toto menambahkan. (Antara/Agt)
Sumber:http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/04/1/135754/LSI-Kasus-Korupsi-Demokrat-dan-PKS-Berdampak-Beda
Bedanya Anas dan LHI | Sebuah Catatan Hukum
Politik Adu Domba
Politik adu domba telah terkenal di
Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda.
Bangsa penjajah saat itu menamakannya
sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah
strategi yang digunakan oleh pemerintah
penjajahan Belanda untuk kepentingan
politik, militer dan ekonomi. Politik adu
domba digunakan untuk mempertahankan
kekuasaan dan pengaruh penjajahan
Belanda di Indonesia.
Secara prinsip, praktik politik adu domba
adalah memecah belah dengan saling
membenturkan (mengadu domba) kelompok
besar yang dianggap memiliki pengaruh dan
kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan
tersebut terpecah-belah menjadi kelompok-
kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan
demikian kelompok-kelompok kecil tersebut
dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai.
Unsur-unsur yang digunakan dalam praktik
politik jenis ini adalah;
1. menciptakan atau mendorong
perpecahan dalam masyarakat untuk
mencegah terbentuknya sebuah aliansi
yang memiliki kekuatan besar dan
berpengaruh,
2. memunculkan banyak tokoh baru
(tokoh boneka?) yang saling bersaing
dan saling melemahkan,
3. mendorong ketidak percayaan dan
permusuhan antar masyarakat,
4. mendorong konsumerisme yang pada
akhirnya memicu timbulnya KKN
(korupsi, kolusi dan nepotisme).
Di negara asalnya Belanda, politik devide et
impera sudah lama tak digunakan lagi.
Belanda saat ini saat menjunjung tinggi hak
asasi manusia (HAM). Namun justru di
Indonesia politik itu nampaknya masih
membekas dalam dan masih saja
digunakan. Apalagi setelah era reformasi
yang oleh banyak pihak dinilai salah
kaprah. Legislatif seperti berlawanan
dengan eksekutif, partai A saling
melemahkan partai B, begitu sebaliknya
dan seterusnya. Padahal justru seharusnya
saling bekerjasama dan saling memperkuat
dan melengkapi.
Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari
warga masyarakat biasa sampai warga kelas
atas bisa jadi objek sasaran. Sesama
pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara
masalah kecil bisa berkembang menjadi
konflik yang besar. Perbedaan agama, suku
dan sebagainya bisa memunculkan percikan
api konflik yang bila diberi bensin segera
berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah
banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari.
Media massa seperti bertepuk tangan dan
seolah-olah ikut memberi semangat melihat
kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan
reformasi dan demokrasi?
Dalam politik adu domba, konflik sengaja
diciptakan. Perpecahan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya
aliansi yang bisa menentang penjajah
(imperialisme), entah itu kekuasaan di
pemerintahan, di partai, kelompok di
masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak
atau orang-orang yang bersedia bekerja
sama dengan kekuasaan, dibantu atau
dipromosikan, mereka yang tidak bersedia
bekerjasama, segera disingkirkan.
Ketidak percayaan terhadap pimpinan atau
suatu kelompok sengaja diciptakan agar
pemimpin atau kelompok tersebut tidak
tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak
hanya ketidak percayaan, bahkan
permusuhan pun sengaja disemai. Teknik
yang digunakan adalah agitasi, propaganda,
desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti
itu tumbuh subur saat ini.
Di zaman penjajahan Belanda, mereka
menggandeng beberapa pribumi untuk
menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan
yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka
dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya
sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba
dengan raja lain yang pada akhirnya
menimbulkan peperangan dan perpecahan.
Alhasil saat itu tidak muncul sebuah
kerajaan yang besar dan kuat.
Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di
tengah era informasi yang sangat liberal,
praktik adu domba itu menjadi tontonan
sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi
berita-berita tentang perseteruan antar
kelompok untuk memperebutkan
kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki,
saling sikut dengan intrik-intrik politik yang
sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu,
disadari atau tidak, dilakukan sedemikian
rupa untuk saling menghancurkan.
Di era merdeka dan modern seperti saat
ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba
aduan oleh siapapun dan pihak manapun.
Imperalisme maupun neo imperalisme,
tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang
kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat
negeri asal penggagas berdirinya Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Password untuk mengatasi masalah ini
sama dengan yang kita gunakan saat
mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu
persatuan dan kesatuan. Mari bersatu
menghimpun kekuatan bersama, jangan
mau dinina-bobokan dan lalu diadu domba.
Indonesia adalah negara besar dan memiliki
potensi yang besar. Dengan kesatuan.
Sumber:www.hasanalbanna.com/politik-adu-domba/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+hasanalbanna+%28hasanalbanna.com%29
Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa
Imam Ghazali membuat penjelasan tentang rahasia batin puasa, beliau berkata : الفصل الثاني في أسرار الصوم وشروطه الباطنة اعلم ...
-
Tarhib Ramadhan adalah tradisi menyambut bulan suci dengan sukacita, persiapan spiritual, dan mental agar siap menjalani ibadah ...
-
Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat waspada dan tidak tergiur iming-iming multilevel marketing (MLM) haji. Sampai sekarang M...
-
Published with Blogger-droid v2.0.10
-
A. Pengertian antarmuka (User interface) Antarmuka pengguna, atau User Interface (UI), adalah cara di mana pengguna berinteraks...

