Salah satu aspek dari taktik rekrutmen KNIL di koloni-koloni Belanda adalah klasifikasi orang-orang tertentu yang, entah bagaimana, lebih cocok untuk menjadi tentara. Di Hindia Belanda, orang Ambon dan orang Manado, dengan tambahan dari beberapa orang Alifuru dan orang Timor, dianggap cocok untuk menjadi tentara. Bersama-sama, mereka sering disebut dengan Amboinezen. Pemilihan orang Ambon dan Manado ini dilatarbelakangi dari pengetahuan VOC terhadap mereka, sehingga VOC menjadikan mereka sebagai tentara privatnya.
Tahun 1936, jumlah pribumi Hindia Belanda yang bergabung di KNIL mencapai 33.000 tentara, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.
Meskipun KNIL banyak menyerap pribumi Hindia Belanda, Belanda juga merekrut mantan budak Ghana dari Pantai Emas Belanda untuk melengkapi kembali jumlah tentara yang hilang saat Perang Diponegoro. Mereka kemudian dikenal sebagai Belanda Hitam. Terhitung sekitar 3000 orang Ghana yang melayani KNIL antara tahun 1830-1881.
Pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL adalah Abdulkadir Widjojoatmodjo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal USS Renville. Sultan Hamid II dari Pontianak, yang dididik oleh dua perwira Inggris, mencapai pangkat Mayor Jenderal dalam posisi Asisten Politik Ratu Juliana.
Sumber: wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar