Citizen
journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam mengabarkan
berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat serangan-serangan rezim
Bashar Assad di negaranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Setiap
wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko
keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist
di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan
senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah
mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di
sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga
sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu
Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata
bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap
hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya
mati.”
Saad Sulibi,
telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput,
tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan
diri.
“Saya
merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya
menembak balik,” katanya.
Akram Asaf,
juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan…
hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup
pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf
sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang
siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para
aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di
Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid,
atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat
membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di
medan ini.
Abu Hussein
mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk
memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya
barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di
kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan
melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan
mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu
Hussein.
Abu Hussein
mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang
berbasis di Mesir.
“Kami
mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat
di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa
brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka
“mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau
di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan
mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara
ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita
sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
sumber: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Citizen
journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam
mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat
serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus
mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Citizen
journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam
mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat
serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus
mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Citizen
journalist (jurnalis warga) di Suriah telah berperan penting dalam
mengabarkan berita tentang korban sipil dan kehancuran akibat
serangan-serangan rezim Bashar Assad di negaranya, meskipun harus
mempertaruhkan nyawanya.
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Setiap wartawan yang turun ke medan perang untuk meliput, memang beresiko keselamatannya terancam. Namun, ada yang beda dengan citizen journalist di Suriah ini, sebagian mereka meliput sambil menenteng senjata. Kamera dan senapan adalah alat juang mereka.
“Kami adalah mata dunia,” kata Kinda, satu-satunya wanita dari 10 orang yang bekerja di sebuah pusat media di timur kota Deir Ezzor, menjadi seorang jurnalis warga sejak perang meletus di Suriah, dikutip Agence France-Presse (AFP).
Rekannya Abu Hussein, meskipun telah menyaksikan berbagai tragedi mengerikan, ia berkata bahwa ia masih menemukan “kekuatan untuk tetap melakukan pekerjaan ini setiap hari, dan Saya akan terus melakukannya hingga kami membebaskan Suriah atau Saya mati.”
Saad Sulibi, telah terbiasa dengan kamera dan senapan di tangannya. Tugasnya memang meliput, tetapi saat ia ditargetkan maka ia menggunakan senapannya untuk mempertahankan diri.
“Saya merekam pertempuran dengan kamera saya, tetapi jika mereka menembak saya, Saya menembak balik,” katanya.
Akram Asaf, juga berjuang dengan kamera dan AK-47. “Saya berperang selama tujuh bulan… hingga Saya bergabung dengan (jurnalis warga) setelah menyadari bahwa ada cukup pria untuk berperang dan mereka butuh orang untuk memfilmkan di garis depan.”
Tetapi Asaf sewaktu-waktu bisa berubah, dari seorang jurnalis menjadi seorang mujahid yang siap mati. “Saya pergi ke mana Saya dibutuhkan. Hari ini Saya bersama para aktivis, tetapi mungkin besok Saya kembali ke garis depan untuk berperang.”
Siapapun di Suriah, sewaktu-waktu bisa tewas akibat serangan. Baik ia warga sipil, mujahid, atau jurnalis. Sebagaimana Abu Umar, salah satu jurnalis warga yang giat membongkar kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil Muslim, telah gugur di medan ini.
Abu Hussein mengatakan ia meninggal dalam sebuah pemboman, “membayar dengan hidupnya untuk memberitahu kekejaman yang dilakukan rezim terhadap warga sipil setiap hari.”
Kini hanya barang-barangnya seperti helm dan jaket anti-peluru yang masih berbaring di kursi yang biasa ia gunakan bekerja di media center itu.
“Dengan melihat barang-barangnya, membuatnya tetap di sini bersama kami dan mengingatkan kami mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan,” ujar Abu Hussein.
Abu Hussein mengatakan tim mereka mengirimkan hasil rekaman kepada Channel Deir Ezzor, yang berbasis di Mesir.
“Kami mengirimkan materinya dan mereka menjalankannya,” jelas Asaf. “Ini bisa dilihat di Suriah dan seluruh dunia.”
Beberapa brigade mujahdiin juga merekam aktivitas mereka sendiri dan terkadang mereka “mengirimkannya kepada kami untuk mengedit dan mengunggah di channel kami atau di Youtube. Itu bagus, karena kami tidak bisa berada di mana saja, dan mereka sampai ke tempat-tempat yang kami tidak bisa capai.”
Sementara ada juga beberapa brigade mujahidin yang merekam dan mempublikasikan berita sendiri tanpa perantara. (siraaj/arrahm
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/25/citizen-journalist-di-suriah-antara-kamera-dan-ak-47.html#sthash.5HBOn5ho.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar